Satu Tahun Menjadi ‘Anak Perempatan’

April 21st, 2009 by dimski

Sudah lebih dari setahun saya dan istri tinggal di lantai 3 sebuah ruko di kawasan Kebon Jeruk. Selama setahun itu pun kita merasakan berbagai suka duka tinggal di rumah yang sekaligus tempat usaha tersebut, namun karena satu dan lain hal kita akan meninggalkannya dan pindah ke kawasan Tebet. Saya pribadi tidak pernah tinggal di ruko sebelumnya dan selama puluhan tahun tinggal di Depok telah terbiasa bangun pagi mendengarkan suara kicau burung, tukang sayur dan anak SD yang berangkat sekolah. Beda sekali dengan yang saya rasakan sekarang karena yang membangunkan saya tiap hari adalah suara mesin yang menderu, klakson mobil atau motor dan suara pekerja bangunan yang memperbaiki jalan. Apabila warga kampung belakang yang mayoritas Betawi sedang mengadakan hajatan maka akan terdengar suara letupan petasan yang cukup keras seperti bom yang saling bersahutan, membuat saya seolah berada di tengah medan perang. Satu hal yang lebih mengganggu lagi jika ada dangdutan di perempatan persis depan ruko saya, maka musik dangdut yang mengalun kencang akan terdengar sepanjang malam sampai pagi hari, oh tidak…

Tapi lambat laun saya mulai terbiasa apalagi setelah setahun lebih tinggal di sini saya merasa telah membaur dengan keadaan lingkungan di sekitar perempatan tempat ruko saya berada, manusia memang dibuat untuk beradaptasi. Sejak tinggal di perempatan seringkali saya menemukan  hal yang tak terduga mulai dari tawuran pelajar, tarian waria (yang ini mungkin bisa diduga hehe…) kecelakaan motor, sampai razia dan pembongkaran oleh aparat pemerintahan (kok kejadiannya serem semua ya? apalagi tarian waria itu iih geli deh bouww hihi…) Tapi ada juga hal-hal unik dan menghibur seperti yang terjadi minggu malam kemarin. Ketika saya sedang bengong di lantai paling atas ruko sambil memandang mobil bersliweran tiba-tiba terdengar suara musik tradisional dari kejauhan, kemudian dari ujung tikungan muncul lima orang berpakaian tradisional (entah pakaian sunda atau betawi) tiga diantaranya memegang instrumen sementara dua orang memegang kantung untuk meminta uang. Uniknya adalah salah satu dari mereka memainkan musik tradisional dengan angklung yang disusun sedimikian rupa sehingga menjadi semacam ’strap in keyboard’ yang berukuran besar sementara satu orang lainnya memainkan drum set portabel bikinan sendiri dan sebuah tamborin. Berlima mereka terus mendendangkan lagunya sambil meminta sedikit upah dari para penikmat warung indomie yang berbaik hati. Pemandangan seperti ini memang tidak bisa dilihat setiap hari dan mengingatkan saya bahwa di ‘kampung besar’ Jakarta ini masih ada hal-hal menyenangkan dan unik yang kadang bisa menghibur kita. Selain hal-hal tak terduga tersebut mungkin hal yang akan saya rindukan adalah tempat jajannya, karena di sekitar ruko terdapat warung tenda sampai restoran yang menyediakan berbagai macam makanan-makanan enak.. Tapi mungkin sebaiknya saya mengurangi jajan dan memulai diet hehe..